The Guardian of Tax Justice
Dalam arsitektur hukum Indonesia, sengketa pajak seringkali dipandang sebagai urusan teknis administratif yang berakhir di Pengadilan Pajak. Namun, pandangan ini mengabaikan satu pilar raksasa yang menaungi seluruh sistem peradilan tersebut: Mahkamah Agung (MA).
Table of Contents
ToggleBagi korporasi besar dan investor asing, keberadaan Mahkamah Agung bukan sekadar “pengadilan tingkat lanjut”. MA memegang peran konstitusional sebagai puncak kekuasaan kehakiman yang menjamin tegaknya hukum dan keadilan. Dalam konteks perpajakan, peran Mahkamah Agung dalam sengketa pajak sangatlah vital dan multidimensi. MA tidak hanya berfungsi mengadili sengketa konkret antara Wajib Pajak dan Fiskus melalui Peninjauan Kembali (PK), tetapi juga memiliki wewenang untuk membatalkan peraturan perpajakan di bawah undang-undang yang dianggap merugikan dunia usaha dan bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi.
Keputusan-keputusan yang lahir dari Gedung Mahkamah Agung di Medan Merdeka Utara seringkali menjadi landmark decision yang mengubah arah kebijakan fiskal nasional. Bagi direksi perusahaan dan general counsel, memahami peran strategis MA adalah kunci untuk menavigasi risiko hukum makro. Ketika peraturan berubah-ubah dan interpretasi fiskus tidak konsisten, Mahkamah Agung adalah benteng terakhir (the last bastion) untuk mencari kepastian hukum (legal certainty).
Artikel ini akan membedah secara komprehensif peran MA, mulai dari fungsinya sebagai pengadil tertinggi (Judex Juris), kewenangannya dalam Hak Uji Materiil (HUM), hingga perannya dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui unifikasi hukum.
1. Mahkamah Agung sebagai Judex Juris (Pengadil Penerapan Hukum)
Peran paling umum yang diketahui publik adalah menangani upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Namun, esensi peran ini sering disalahpahami.
Berbeda dengan Pengadilan Pajak yang berperan sebagai Judex Facti (memeriksa fakta: apakah transaksi ada, berapa nilainya, mana buktinya), Mahkamah Agung berperan murni sebagai Judex Juris (memeriksa penerapan hukum).
Menjaga “Rel” Hukum
Dalam sengketa pajak, seringkali Fiskus dan Hakim Pengadilan Pajak terjebak dalam detail angka sehingga melupakan prinsip dasar hukum.
- Contoh Peran MA: Jika Pengadilan Pajak memutus bahwa PT A bersalah karena tidak bisa menunjukkan dokumen yang musnah terbakar, MA bisa membatalkan putusan tersebut dengan alasan Hakim Pengadilan Pajak melanggar prinsip Force Majeure dan beban pembuktian yang adil.
- Implikasi: MA memastikan bahwa semangat undang-undang tidak dikhianati oleh teknis pelaksanaan di lapangan. MA mengoreksi kekeliruan, kekhilafan, atau penyalahgunaan wewenang yudisial yang dilakukan oleh pengadilan di bawahnya.
2. Kewenangan Hak Uji Materiil (HUM): Melawan Regulasi yang Tidak Adil
Ini adalah peran Mahkamah Agung yang paling strategis bagi korporasi namun sering kurang dimanfaatkan.
Selain mengadili sengketa kasus per kasus (PK), Mahkamah Agung memiliki wewenang untuk menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Ini disebut Hak Uji Materiil (HUM).
Dalam dunia pajak, hierarki aturan sangat banyak: mulai dari Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri Keuangan (PMK), hingga Peraturan Direktur Jenderal Pajak (PER-Dirjen). Seringkali, aturan teknis ini (PMK/PER) isinya justru memberatkan Wajib Pajak melebihi apa yang diamanatkan oleh Undang-Undang (UU KUP/PPh/PPN).
Studi Kasus Peran MA dalam HUM:
- Kasus: Sebuah PMK mengatur bahwa biaya X tidak boleh dikurangkan (non-deductible), padahal di UU PPh biaya tersebut secara prinsip boleh dikurangkan (3M).
- Tindakan Korporasi: Asosiasi usaha atau perusahaan dapat mengajukan Permohonan Keberatan (HUM) ke Mahkamah Agung untuk membatalkan pasal dalam PMK tersebut.
- Putusan MA: Jika MA mengabulkan, maka pasal dalam PMK tersebut dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
- Dampak: Putusan ini berlaku Erga Omnes (berlaku untuk umum). Artinya, seluruh Wajib Pajak di Indonesia diuntungkan karena aturan yang menindas tersebut dihapus.
Peran ini menjadikan MA sebagai penyeimbang (check and balance) terhadap kekuasaan eksekutif (Kementerian Keuangan/DJP) dalam membuat regulasi, mencegah kesewenang-wenangan regulasi (regulatory excess).
3. Penjaga Kesatuan Hukum (Unity of Law) melalui Sistem Kamar
Salah satu masalah terbesar dalam hukum pajak adalah disparitas putusan. Kasus yang sama bisa diputus berbeda oleh majelis hakim yang berbeda. Hal ini menciptakan ketidakpastian iklim usaha.
Untuk mengatasi ini, Mahkamah Agung menerapkan Sistem Kamar (sejak 2011). Sengketa pajak ditangani secara spesifik oleh Kamar Tata Usaha Negara (TUN) dengan hakim-hakim agung yang memiliki spesialisasi/sertifikasi perpajakan.
Peran Rapat Pleno Kamar
Secara berkala, Hakim Agung Kamar TUN mengadakan Rapat Pleno untuk membahas isu-isu hukum krusial yang sering muncul dan solusinya. Hasil rapat ini dituangkan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA).
- Fungsi SEMA: Menjadi pedoman bagi seluruh hakim di Indonesia (termasuk Hakim Pengadilan Pajak) agar memutus perkara serupa dengan cara yang sama.
- Manfaat bagi Korporasi: Prediktabilitas. Perusahaan bisa memprediksi hasil sengketa dengan merujuk pada SEMA dan yurisprudensi tetap, sehingga bisa mengambil keputusan bisnis yang lebih akurat.
4. Pencipta Yurisprudensi (Jurisprudence Creator)
Di negara Civil Law seperti Indonesia, undang-undang seringkali tertinggal dibandingkan perkembangan model bisnis (terutama ekonomi digital). Di sinilah peran MA untuk mengisi kekosongan hukum (Rechtsvinding) melalui putusan-putusannya.
Putusan MA yang konsisten atas suatu isu hukum akan menjadi Yurisprudensi Tetap.
Contoh Peran Yurisprudensi:
- Isu Tanggung Jawab Renteng PPN: Selama bertahun-tahun, DJP menagih PPN ke pembeli jika penjual kabur. Mahkamah Agung secara konsisten mengeluarkan putusan bahwa jika pembeli sudah membayar dan punya bukti, tanggung jawab renteng tidak berlaku.
- Dampak: Yurisprudensi ini menjadi pelindung bagi ribuan perusahaan yang beritikad baik dari tagihan pajak yang tidak adil. Peran MA di sini adalah sebagai pelindung moralitas hukum.
5. Dampak terhadap Iklim Investasi dan Ease of Doing Business
Peran Mahkamah Agung dalam sengketa pajak memiliki korelasi langsung dengan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business).
Investor asing sangat sensitif terhadap kepastian hukum. Jika sengketa pajak di suatu negara dianggap tidak adil, berlarut-larut, atau diputus sembarangan, investor akan kabur.
- Sinyal Positif: Ketika MA membatalkan koreksi pajak yang agresif dan tidak berdasar terhadap perusahaan multinasional, ini mengirimkan sinyal ke komunitas global bahwa sistem peradilan Indonesia objektif dan independen.
- Independensi Institusional: MA yang berada di luar ranah eksekutif (Kemenkeu) memberikan jaminan impartiality. Bahwa negara (DJP) bisa kalah di pengadilan negaranya sendiri adalah bukti berjalannya supremasi hukum.

Tantangan dan Kritik terhadap Peran MA
Meskipun perannya vital, korporasi juga harus memahami tantangan yang ada di MA:
A. Tumpukan Perkara (Backlog)
Volume perkara pajak yang masuk ke MA sangat masif (ribuan berkas per tahun). Hal ini menyebabkan waktu tunggu putusan (lead time) menjadi lama, bisa mencapai 2-5 tahun.
- Risiko bagi Korporasi: Ketidakpastian neraca keuangan selama bertahun-tahun.
B. Konsistensi Putusan
Meskipun ada Sistem Kamar, terkadang masih ditemukan putusan yang saling bertentangan (conflicting decisions) antar Majelis Hakim Agung, terutama pada isu-isu baru seperti Transfer Pricing atau Digital Economy. Ini menuntut perusahaan untuk selalu update dengan tren putusan terbaru.
Bagaimana Korporasi Menyikapi Peran MA?
Memahami peran strategis MA, korporasi harus menyesuaikan strategi manajemen pajaknya:
- Jangan Hanya Baca UU, Baca Putusan MA: Dalam merencanakan struktur pajak (Tax Planning), jangan hanya mengacu pada UU KUP atau PPh. Pelajari bagaimana MA menafsirkan pasal-pasal tersebut dalam putusan terbarunya. Konsultan hukum yang kompeten pasti memiliki database putusan ini.
- Manfaatkan Hak Uji Materiil: Jika bisnis Anda terhambat oleh PMK atau Peraturan Dirjen Pajak yang dirasa tidak adil dan bertentangan dengan UU, pertimbangkan untuk mengajukan HUM ke MA. Ini adalah langkah strategis level industri yang bisa mengubah peta permainan (game changer).
- Siapkan Argumentasi Level Kasasi: Sejak di Pengadilan Pajak, bangunlah argumentasi hukum yang siap untuk dibawa ke MA. Jangan hanya fokus pada pembuktian fakta (kuitansi), tapi bangun konstruksi hukum (asas, teori, hierarki aturan) agar jika kalah di tingkat pertama, Anda punya amunisi kuat untuk PK ke MA.
Peran Skailaw dalam Navigasi di Tingkat Mahkamah Agung
Berinteraksi dengan Mahkamah Agung—baik melalui PK maupun HUM—membutuhkan kompetensi hukum tertinggi.
Skailaw hadir untuk mendampingi korporasi dalam ranah High-Level Litigation ini:
- Jurisprudence Analysis: Kami membantu klien memetakan tren putusan MA terkait isu spesifik perusahaan (misal: royalti, bunga, atau ekspor), memberikan gambaran probabilitas keberhasilan sengketa.
- HUM Representation: Tim kami memiliki pengalaman dan kapasitas akademis untuk menyusun permohonan Hak Uji Materiil (Judicial Review) guna membatalkan regulasi pajak yang merugikan klien.
- Supreme Court Advocacy: Dalam menyusun Memori PK, kami tidak menggunakan bahasa teknis akuntansi yang membosankan, melainkan bahasa hukum konstitusional dan administratif yang resonan dengan pola pikir Hakim Agung.
Penutup
Mahkamah Agung adalah penjaga gawang terakhir keadilan perpajakan di Indonesia. Perannya melampaui sekadar memutus sengketa; MA membentuk hukum, menguji regulasi, dan menjaga keseimbangan antara hak negara memungut pajak dengan hak warga negara/korporasi untuk diperlakukan adil.
Bagi korporasi, keberadaan MA memberikan harapan bahwa kesalahan penerapan hukum di tingkat bawah masih bisa dikoreksi. Namun, akses menuju keadilan di tingkat ini membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang cara kerja institusi tersebut.
Pastikan langkah strategis perusahaan Anda di tingkat puncak peradilan didampingi oleh mitra yang tidak hanya mengerti pajak, tetapi juga mengerti hukum dan konstitusi.
Bersama Skailaw, optimalkan setiap celah hukum yang disediakan negara untuk melindungi kepentingan bisnis Anda secara bermartabat.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan wawasan institusional. Analisis mengenai peran dan putusan pengadilan bersifat dinamis. Artikel ini bukan merupakan nasihat hukum formal. Untuk strategi litigasi tingkat Mahkamah Agung, hubungi profesional Skailaw.


