Dalam dunia perpajakan korporasi, menyusun Transfer Pricing Documentation (TP Doc) sering kali dianggap sebagai pekerjaan paling menantang dan memakan waktu. Berbeda dengan pengisian SPT PPh Badan yang bersifat kuantitatif (hitung angka), TP Doc adalah pekerjaan kualitatif. Anda harus menulis narasi bisnis, melakukan analisis ekonomi, dan berargumen layaknya seorang pengacara yang membela kewajaran harga transaksi perusahaan.
Table of Contents
ToggleSejak berlakunya PMK 213/2016, standar dokumentasi di Indonesia menjadi sangat ketat. TP Doc bukan lagi sekadar formalitas tebal tanpa isi. Pemeriksa pajak kini memiliki kemampuan untuk membedah setiap paragraf dalam Local File Anda.
- Jika Analisis Fungsi (FAR) Anda tidak sesuai fakta lapangan -> Dokumen dianggap cacat.
- Jika Pembanding (Benchmark) yang Anda pilih tidak apple-to-apple -> Metode ditolak, dan pemeriksa akan memakai pembanding versinya sendiri (yang biasanya merugikan Anda).
Sebagai konsultan pajak jakarta Skailaw, kami sering melakukan review atas TP Doc buatan internal perusahaan. Kesalahan paling umum yang kami temukan adalah Inkonsistensi. Contoh: Di bab Fungsi dibilang “Distributor Mandiri” (risiko tinggi), tapi di bab Keuangan margin labanya sangat tipis seperti “Agen” (risiko rendah). Celah inilah yang akan diserang habis-habisan oleh auditor pajak.
Artikel ini disusun sebagai Buku Petunjuk Teknis (Technical Handbook) bagi Anda yang ditugaskan menyusun atau mengawasi pembuatan TP Doc. Kita akan fokus membedah struktur Local File (karena ini yang paling krusial bagi entitas Indonesia), langkah-langkah melakukan Benchmarking Study, hingga tips agar dokumen Anda “tahan banting” saat diperiksa.
Persiapan Awal: Kumpulkan Data Mentah
Jangan mulai menulis sebelum “amunisi” Anda lengkap. Menyusun TP Doc butuh data lintas divisi, bukan cuma data akuntansi.
Checklist Data Wajib:
- Struktur Organisasi: Bagan detail, termasuk nama direksi dan deskripsi tugas (Job Desc) setiap departemen.
- Laporan Keuangan Audited: Tahun pajak yang bersangkutan.
- Laporan Keuangan Segmentasi: Jika Anda punya transaksi afiliasi dan independen, pisahkan laporan laba ruginya. (Penting!).
- Kontrak Transaksi Afiliasi: Perjanjian royalti, perjanjian jual beli, perjanjian jasa manajemen.
- Daftar Aset: Daftar inventaris dan aset tak berwujud (jika ada).
- Data Industri: Laporan riset pasar tentang tren industri Anda di tahun tersebut.
Struktur Anatomi Local File (Bedah Per Bab)
Berdasarkan Lampiran PMK 213, Local File harus memuat informasi berikut secara runut. Mari kita bedah cara menulisnya.
Bab A: Identitas dan Kegiatan Usaha
Jangan cuma copy-paste profil perusahaan dari website. Jelaskan model bisnisnya.
- Sejarah: Kapan berdiri, siapa pemegang saham.
- Manajemen: Siapa pengambil keputusan utama? (Lokal atau didikte Induk?).
- Strategi Bisnis: Apakah perusahaan sedang fase startup, ekspansi, atau bertahan? (Ini penting untuk menjustifikasi jika perusahaan rugi).
- Pesaing: Siapa kompetitor utama di pasar lokal?
Bab B: Informasi Transaksi Afiliasi & Kesebandingan
Ini inti dari dokumen. Rinci satu per satu.
- Jenis Transaksi: Pembelian bahan baku dari PT Induk (Singapura).
- Nilai Transaksi: Rp 50 Miliar (30% dari total pembelian).
- Analisis: Mengapa beli dari induk? Apakah karena bahan bakunya unik dan tidak dijual pihak lain?
Bab C: Analisis Fungsi, Aset, dan Risiko (FAR Analysis)
Tuliskan dengan Jujur dan Detail.
- Fungsi (Functions): Siapa yang melakukan R&D? Siapa yang melakukan QC? Siapa yang melakukan pemasaran?
- Tips: Semakin banyak fungsi yang Anda lakukan, semakin besar jatah laba yang berhak Anda terima.
- Aset (Assets): Aset apa yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan? Mesin canggih? Gudang luas? Merek dagang?
- Risiko (Risks):
- Risiko Pasar: Jika barang tidak laku, siapa yang rugi? (Anda atau Induk?).
- Risiko Persediaan: Jika barang di gudang rusak/usang, siapa yang menanggung?
- Risiko Kredit: Jika customer tidak bayar, siapa yang menanggung piutang macet?
Contoh Karakterisasi: Berdasarkan FAR, PT Indonesia disimpulkan sebagai Limited Risk Distributor (Distributor Risiko Terbatas) karena tidak menanggung risiko barang usang dan tidak melakukan marketing (semua dari pusat). Konsekuensinya: PT Indonesia wajar jika labanya kecil tapi stabil, tidak boleh rugi.
Bab D: Pemilihan Metode Penentuan Harga Transfer
Jelaskan alasan Anda memilih metode tertentu.
- Mengapa pakai TNMM (Transactional Net Margin Method)? Karena data pembanding margin laba bersih lebih mudah didapat dan lebih toleran terhadap perbedaan produk.
- Mengapa menolak CUP (Comparable Uncontrolled Price)? Karena produknya unik, tidak ada barang identik di pasar bebas.
Bab E: Penerapan Prinsip Kewajaran (Benchmarking)
Tampilkan hasil pencarian data pembanding.
- Indikator Tingkat Laba (PLI): Menggunakan Operating Margin (Laba Operasi / Omzet).
- Hasil Pencarian: Ditemukan 10 perusahaan sejenis di database Oriana.
- Rentang Kewajaran (Interquartile Range):
- Kuartil 1 (Bawah): 3%
- Median (Tengah): 5%
- Kuartil 3 (Atas): 8%
- Posisi Perusahaan: Margin perusahaan Anda 6%.
- Kesimpulan: 6% berada di antara 3% dan 8%. Maka transaksi SUDAH WAJAR.
Strategi Melakukan Benchmarking Study
Ini bagian paling teknis dan sering jadi sengketa. Bagaimana cara mencari pembanding yang diterima DJP?
Langkah 1: Tentukan Kriteria Pencarian (Search Strategy)
- Database: Gunakan database komersial terpercaya (Bloomberg, Osiris, Oriana, ktMine). Jangan pakai Google search manual.
- Wilayah: Prioritaskan perusahaan di Indonesia. Jika tidak cukup, perluas ke Asia Tenggara/Asia Pasifik.
- Tahun Data: Gunakan data tahun yang sama (Current Year) atau rata-rata 3 tahun (Multiple Year) untuk kestabilan.
Langkah 2: Screening Kuantitatif Filter perusahaan yang tidak layak:
- Data keuangan tidak lengkap.
- Perusahaan rugi terus-menerus (persistent loss).
- Perusahaan yang juga punya transaksi afiliasi signifikan (>25%). Kita cari yang independen.
Langkah 3: Screening Kualitatif (Manual Review) Baca deskripsi bisnis setiap kandidat perusahaan.
- Case: Anda adalah distributor alat berat.
- Candidate A: Distributor alat berat (Terima).
- Candidate B: Pabrik alat berat (Tolak – beda fungsi).
- Candidate C: Penyewaan alat berat (Tolak – beda fungsi).
Analisis Keuangan Segmentasi (Segmen)
Sering kali, perusahaan Anda tidak 100% melakukan transaksi afiliasi.
- Divisi A: Jual produk Induk (Afiliasi).
- Divisi B: Jual produk lokal (Independen).
DJP meminta Anda memisahkan Laba Rugi Divisi A dan Divisi B.
- Tantangan: Bagaimana membagi biaya listrik, gaji direksi, dan sewa kantor ke dua divisi itu?
- Solusi: Gunakan Allocation Key (Kunci Alokasi) yang logis. Misal berdasarkan proporsi omzet atau proporsi HPP. Jelaskan metode alokasi ini di TP Doc agar tidak dikoreksi.
Tips Agar TP Doc “Tahan Banting”
- Ex-Ante Approach: Buatlah dokumen ini (atau setidaknya analisis benchmarking-nya) SAAT transaksi terjadi atau di awal tahun. Jangan menunggu akhir tahun. Ini menunjukkan itikad baik bahwa harga ditentukan berdasarkan studi, bukan “dicocok-cocokkan” di akhir.
- Sinkronisasi dengan Master File: Pastikan cerita di Local File (Indonesia) nyambung dengan Master File (Global). Jangan sampai di Master File dibilang Indonesia adalah “Pabrik Utama”, tapi di Local File mengaku “Toll Manufacturer”.
- Konsistensi dengan Dokumen Lain: Cek konsistensi dengan Kontrak, Invoice, dan Laporan Tahunan.
Kapan Harus Update?
Apakah TP Doc harus dibuat baru tiap tahun? YA. Karena kondisi ekonomi berubah, data pembanding berubah, dan kinerja perusahaan Anda berubah.
- Anda boleh menggunakan hasil pencarian Benchmarking yang sama untuk maksimal 3 tahun (dengan update data keuangan terbaru), ASALKAN tidak ada perubahan signifikan pada model bisnis. Namun, narasi laporan tetap harus di-update setiap tahun.

Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi
- Cherry Picking: Sengaja memilih perusahaan pembanding yang margin-nya rendah agar margin perusahaan sendiri terlihat bagus. Auditor pasti akan melakukan counter-search dan menemukan kecurangan ini.
- Bahasa Asing: Menyerahkan TP Doc dalam Bahasa Inggris mentah-mentah. Aturan mewajibkan Bahasa Indonesia. Jika Inggris, harus ada terjemahan resmi.
- Copy-Paste Tahun Lalu: Lupa mengupdate tanggal, tahun, atau kondisi ekonomi makro. Ini menunjukkan dokumen dibuat asal-asalan.
Peran Skailaw dalam Penyusunan TP Doc
Menyusun TP Doc yang berkualitas membutuhkan kombinasi keahlian Akuntansi, Ekonomi, Hukum, dan Bahasa.
Layanan Skailaw:
- Full Service Documentation: Kami mengerjakan TP Doc dari A sampai Z. Mulai dari wawancara manajemen (FAR Analysis), pemisahan laporan keuangan segmen, hingga pencarian data pembanding di database premium berlisensi.
- Review & Update: Bagi Anda yang sudah punya draft, kami melakukan Quality Control. Kami cek apakah narasi Anda logis dan apakah pembanding Anda valid.
- TP Planning: Sebelum tahun berjalan, kami membantu mensimulasikan: “Berapa margin laba yang harus Anda capai tahun ini agar aman di zona hijau TP?”
- Audit Defense Support: Jika TP Doc kami diuji oleh pemeriksa, kami siap mendampingi Anda mempertahankan argumen yang telah disusun.
Kesimpulan
Transfer Pricing Documentation adalah dokumen pertahanan diri. Ia bukan sekadar beban administrasi, melainkan kesempatan bagi Anda untuk menceritakan kondisi bisnis Anda dari sudut pandang Anda sendiri, sebelum pemeriksa pajak membuat asumsi sendiri.
TP Doc yang disusun dengan rapi, logis, dan didukung data kuat akan membuat pemeriksa pajak berpikir dua kali sebelum melakukan koreksi.
Apakah Anda sudah yakin data pembanding yang Anda gunakan di TP Doc tahun lalu masih valid untuk tahun ini?
Serahkan Kerumitan TP Doc pada Ahlinya
Menyusun TP Doc membutuhkan waktu ratusan jam kerja dan biaya database yang mahal. Efisiensikan prosesnya dengan bermitra bersama Skailaw.
Kami sajikan dokumen TP berkualitas tinggi yang siap menghadapi tantangan audit.
👉 Hubungi Skailaw untuk Jasa TP Documentation
Referensi:
- PMK Nomor 213/PMK.03/2016.
- PER-22/PJ/2013 tentang Pedoman Pemeriksaan TP.
- UN Practical Manual on Transfer Pricing for Developing Countries.


